Selasa, 07 Januari 2014

Dan kebahagiaan itupun bergulir

"Pa, kembalian taxi yang tujuh ribu, aku kasih sama tukang taxinya aja ... biar dia seneng", begitu anak saya berkisah.
Saya pun mengangguk sambil terharu di dalam hati. Entah kenapa saya mudah terharu jika anak saya melakukan hal yang membahagiakan orang lain.

Saya jadi teringat kisah di majalah Harmoni edisi 2011, saya mencari kembali majalah tersebut dan membuka kisahnya kembali ... Kisah seorang pemuda yang menggulirkan kebahagiaan dari sebuah taxi :

Sabtu, 04 Januari 2014

Titip rindu buat ayah

Mengutip dari beberapa tulisan sahabat :

Statistik membuktikan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih sayang dari seorang ayah, akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri, cenderung bertindak kriminal dan senang membuat keonaran.

Sekitar 70% dari penghuni penjara kriminal adalah orang-orang yang tumbuh tanpa kasih sayang dari ayahnya.

Sahabatku,
Kita dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak kita.

Jangan habiskan seluruh energi dan pikiran hanya di tempat kerja, sehingga ketika tiba di rumah kita hanya memberikan sisa-sisa energi dan duduk asyik dengan bbm-an, whatsapp-an, nonton TV atau video.

Jadilah ayah yang mengiringi setiap langkah anaknya dengan senyum, memberikan peluk kasih sayang. Mendengarkan cerita-cerita kesehariannya, sambil menyisipkan ajaran-ajaran agama, moral, etika, budi pekerti dan sopan santun kepada sang buah hati.

Dan kita pasti akan tidak menyesal, karena anak kita akan hidup sesuai jalan yang kita ajarkan dan kita persiapkan.
Siapa yang tidak akan bangga, bila kelak anak kita menjadi anak yang soleh, taat menjalankan agama, cerdas, pekerja keras, tidak rakus, santun, rendah hati dan memiliki jiwa penolong kepada sesama.

Titip rindu buat ayahSahabatku, Ayah sukses bukanlah pria paling kaya atau paling tinggi jabatannya di perusahaan.Tetapi ayah sukses adalah pria yang anak lelakinya berkata : "Aku nanti mau menjadi seperti ayah" atau anak perempuannya berkata : "Aku nanti mau punya suami seperti ayah".....
Seorang ayah lebih berharga daripada 100 orang guru di sekolah (George Herbert)