Saya pun mengangguk sambil terharu di dalam hati. Entah kenapa saya mudah terharu jika anak saya melakukan hal yang membahagiakan orang lain.
Saya jadi teringat kisah di majalah Harmoni edisi 2011, saya mencari kembali majalah tersebut dan membuka kisahnya kembali ... Kisah seorang pemuda yang menggulirkan kebahagiaan dari sebuah taxi :
Alkisah, ada seorang pemuda berangkat kerja di pagi hari. Hari itu, pemuda itu sedang merasa bahagia, dia akan menghadap direkturnya dan membicarakan mengenai promosi karirnya. Dia memanggil taxi dan menyapa supir taxi,
"Selamat Pagi, Pak".
"Pagi yang cerah, bukan ?", sambungnya sambil tersenyum. Lalu sang pemuda bersenandung kecil di sepanjang perjalanan. Sang supir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dengan senang hati ia mengemudikan taxinya.
Sesampainya di tempat tujuan pemuda itu membayar dengan selembar Rp 50.000,- untuk argo yang menunjuk angka Rp 38.000,-. "Kembaliannya buat bapak saja, selamat bekerja ya pak". kata pemuda itu masih dengan tersenyum.
"Terima kasih !", jawab sang supir taxi dengan penuh syukur.
"Wah ... aku bisa sarapan dulu nih", pikir supir itu. Dan ia pun menuju ke sebuah warung langganan.
"Pesennya biasa, pak?" tanya si mbo warung.
"Iya biasa, nasi dan sayur ... tetapi pagi ini tambahkan sepotong ayam", jawab pak supir dengan tersenyum.
Saat membayar, ditambahkannya dua ribu dari tagihan makannya seraya berkata, "ini untuk jajan anakmu, mbo ...".
Dengan tambahan uang jajan dua ribu tadi, pagi itu anak si mbok berangkat ke sekolah dengan tersenyum lebar. Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini. Satu untuknya, satu lagi diberikannya pada temannya yang tidak membawa bekal.
Teman anak si mbo pun tersenyum karena tidak jadi lapar di sekolah.
Saat selesai sekolah, ia pun berlari pulang dan bercerita kepada ibunya tentang kebahagiaan yang diperolehnya. Sepotong roti dari seorang teman yang peduli, membuat ibunya memanjatkan doa syukur kepada Tuhan. Sambil mendekap anaknya, sang ibu berkata, " Tuhan itu maha baik ya nak .... ".
Benar ... kebahagiaan dapat bergulir bak bola salju ....
Dan kebahagiaan belumlah kebahagiaan jika belum kita gulirkan kepada orang-orang disekitar kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar